YNWA . Powered by Blogger.

About Me

My Photo
Masih menjadi pengembara di bumi Allah. Penyuka keseriusan sherlock holmes, unik dan kocaknya lupus, alam yang tenang dan teduhnya hujan dari balik bening kaca jendela.

Followers

My Friends

cfn29 cfn29

Blogroll

cfn29

Blogger news

“Wahai anakku, jika saja Allah meletakkan kemuliaan dan keagungan pada tukang sapu, niscaya aku pasti menyuruhmu menjadi tukang sampah. Akan tetapi Allah Swt. meletakkan kemuliaan dan keagungan dalam ilmu, maka carilah sekuat tenagamu, karena ilmu menolongmu di saat dunia meremukkanmu dan ilmu melindungimu di saat dunia mencelakaimu.”

Syekh Dr. M. Said Ramadhan al-Bouthiy

Blogroll

Musyarakah 2; Rukun dan Syarat Syirkah

Ada sedikit perbedaan dari pendapat Ulama mengenai rukun syirkah. Ulama Hanafiyah bependapat bahwa rukun syirkah hanyalah ijab dan qabul. Sedangkan menurut Jumhur Ulama, rukun akad syirkah ada tiga, yaitu adanya dua pihak yang saling bersepakat, adanya objek transaksi, dan shighah (ijab dan qabul).

Selanjutnya syarat-syarat syirkah sesuai dengan rukun yang dikemukakan oleh Jumhur Ulama di atas adalah:

1. Pihak yang saling bersepakat. Keduanya harus memiliki keahlian untuk menjadi penjamin dan wakil mitranya. Selain itu juga keduanya harus sudah akil baligh, dan sudah mampu membuat pilihan. Boleh saja bekerjasama dengan non muslim dengan catatan pihak non muslim itu tidak boleh mengurus modal sendirian, karena dikhawatirkan akan menggunakan modal pada usaha-usaha yang diharamkan. Tetapi jika segala aktivitasnya dipantau oleh pihak muslim, maka itu tidak menjadi masalah. Dan persoalannya akan lebih bebas dan terbuka bila bekerjasama dengan sesama muslim.

Syafi'iyah memakruhkan syirkah bersama orang non muslim, dasar pendapat mereka adalah apa yang datang dari Abdullah bin 'Abbas bahwasannya dia berkata, "Aku membenci ketika ada seorang muslim yang berserikat dengan yahudi", dan tidak diketahui adanya Sahabat yang mengingkarinya. Juga karena harta orang-orang Yahudi adalah harta yang tidak baik, karena kebanyakan dari mereka mendapatkannya dari hasil penjualan khamr dan dari hasil riba.

Dalil pembolehan syirkah dengan orang non mulim adalah apa yang diriwayatkan dari 'Atho', bahwasannya dia telah berkata, "Rasulullah Saw. telah melarang untuk bermusyarakah dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani, kecuali perkara jual beli berada di tangan seorang musllim."

2. Objek Transaksi. Objek transaksi meliputi modal, usaha, dan keuntungan.
a. Modal. Modal haruslah dibayar tunai, baik itu ketika akad, ataupun ketika pembelian. Tidak merupakan hutang atau harta yang tidak riil dan diketahui jumlahnya.

Jumhur Ulama, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah tidak mensyaratkan pencampuran modal, karena akad syirkah bisa terjadi cukup dengan akad saja. Berbeda dengan pendapat Syafi'iyah yang mengharuskan pencampuran barang/modal sehingga tidak bisa dibedakan antara keduanya.

b. Usaha. Masing-masing pihak yang bersyirkah bebas mengelola modalnya sebagaimana layaknya pedagang dan menurut kebiasaan yang berlaku di antara mereka. Masing-masing pihak bisa menyerahkan usahanya kepada yang lain, karena hak untuk mengelola modal dimiliki oleh mereka berdua. Mereka pun bisa mengundurkan diri dari haknya tersebut untuk diberikan kepada pihak lain, sesuai dengan kepentingan yang ada.

c. Keuntungan. Keuntungan harus merupakan sejumlah prosentase tertentu, dan bukan berupa nilai uang tertentu.

3. Pelafalan akad. Kesepakatan akad dapat terlaksana menurut kebiasaan, melalui ucapan ataupun tindakan.

No comments:

Post a Comment

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP